Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan pendidikan layaknya sebuah kebun. Petani akan menyebarkan benih, memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman. Bila benih yang ditanam adalah benih padi, petani tidak bisa memaksakan agar tumbuh menjadi tanaman lainnya. Petani hanya dapat menuntun tumbuh kembangnya padi.
Sekolah dapat diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam. Peserta didik diibaratkan sebagai benih tanaman, yang memiliki minat, bakat dan karakternya masing-masing, tidak bisa dipaksa untuk menjadi apa yang diinginkan oleh guru atau orang tua untuk tujuan tertentu.
“Semua orang itu pintar. Tapi kalau kamu menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya si ikan akan menganggap dirinya bodoh”.
Kita mungkin sering membaca atau mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Sebuah tantangan besar bagi guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid yang memiliki karakteristik dan keberagaman yang banyak sekali bentuknya.
Ketika guru menghadapi begitu banyak murid yang memiliki latar belakang sangat beraneka ragam, misalnya perihal kemampuan dasarnya, minatnya, gaya belajarnya dll. Tentu merupakan suatu tantangan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang dapat mengakomodir semua perbedaan siswa tersebut. Pembelajaran diferensiasi adalah solusinya.
Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran diferensiasi yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dari segi konten, proses, dan juga produk yang dihasilkan siswa.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.
2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
3. Penilaian berkelanjutan.
4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.
5. Manajemen kelas yang efektif.
Untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu:
1. Kesiapan belajar (readiness) murid
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.
2. Minat murid
Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:
• Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
• Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
• Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
• Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
3. Profil belajar murid
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll.
Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien.
Menurut Tomlinson (2001), strategi pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Diferensiasi konten
Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid, baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya.
2. Diferensiasi Proses
Dalam kegiatan ini guru perlu memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid. Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario pembelajaran yang akan dirancang.
3. Diferensiasi Produk
Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru. Produk adalah sesuatu yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting produk ini harus mencerminkan pemahaman murid yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. Komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah:
1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik.
2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai.
3. Murid akan merasa aman.
4. Ada harapan bagi pertumbuhan.
5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan.
6. Ada keadilan dalam bentuk nyata.
7. Guru dan berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar