Kamis, 09 Desember 2021

3.1.A.8. KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

3.1.A.8. KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh : Kurnianingsih

CGP Angkatan 2 Kabupaten Cilacap


Pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Patrap Triloka terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. ‘Menuntun’ tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Guru sebagai seorang pamong dapat menggunakan sistem among dalam pelaksanaan pembelajaran untuk membangun karakter murid. 

Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Trilokanya, memberikan pedoman bagi guru yaitu : 

a. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)

Seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan sauri tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memberikan keteladanan kepada orang-orang di sekitarnya karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya. 

b. Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat)

Guru sebagai orang yang berada di antara murid-murid atau di tengah-tengah masyarakat hendaknya selalu dapat menciptakan prakarsa, ide, dan menginspirasi orang lain. Guru harus mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap para muridnya dalam mengambil keputusan termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika yang dihadapi para murid. Dengan demikian potensi murid menjadi lebih berkembang sehingga mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat bagi dirinya.

c. Tut wuri handayani (dari belakang mendukung).

Dari belakang, guru hendaknya mendukung atau mendorong orang yang ada di sekitarnya untuk lebih maju dan percaya diri. Guru harus dapat memberi dukungan, dorongan dan arahan kepada murid untuk dapat mengembangkan minat dan bakat serta kemampuannya semaksimal mungkin. Guru harus mampu mendorong kinerja murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.


Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan

Guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu mempertimbangkan nilai-nilai saat mengambil keputusan agar keputusan yang diambil tepat dan bijaksana. Dalam pengambilan keputusan oleh seorang guru, tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri guru tersebut. Ketika menghadapi sebuah dilema etika akan ada nilai-nilai kebajikan yang mendasari yang bertentangan dan harus menjadi pilihan, sehingga nilai dan prinsip seseorang sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Seorang pemimpin pembelajaran tentunya diharapkan mampu mengambil keputusan yang dapat membawa dampak positif pada terciptanya lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman bagi murid sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang berdampak pada murid agar murid dapat merasakan merdeka belajar.


Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil.

Ketika pendampingan oleh pendamping praktik, saya pernah bertanya atau meminta contoh atau bagaimana yang sebaiknya saya lakukan, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban seperti yang saya harapkan. Setelah mendapatkan materi tentang Coaching, saya baru menyadari bahwa proses yang dilakukan oleh Pendamping Praktik sejatinya sedang menerapkan teknik coaching terhadap CGP. Tidak heran bila pendamping praktik (PP) mengajukan pertanyaan yang hampir sama berulang-ulang kepada saya. Dengan tidak menjawab secara langsung, menyebabkan saya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Hal ini dilakukan tentu saja dalam rangka memunculkan potensi diri yang saya miliki. Kegiatan coaching ini akan saya terapkan pada murid saya, agar mereka dapat bertahan dan mangatasi masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan. Murid juga harus memiliki keterampilan agar mampu membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dalam kehidupan sehari-hari, pasti banyak ditemui berbagai masalah. Kita seyogyanya dapat membedakan maslah-maslah tersebut apakah termasuk bujukan moral ataukah dilema etika.  Suatu pengambilan keputusan tentu sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik. Hal ini akan menuntun kita ketika akan mengambil keputusan terhadap suatu masalah.  Apabila masuk kategori bujukan moral, kita harus memilih pilihan yang benar, bukan sebaliknya.  Apabila permasalahan termasuk pada kategori dilema etika, dalam pengambilan keputusannya, kita harus menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan, yaitu:

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini.

4. Pengujian Benar atau Salah

a. Uji legal - Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut?

b. Uji regulasi - Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut?

c. Uji intuisi - Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?

d. Uji Halaman Depan Koran - Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran?  Apakah Anda merasa nyaman? Bila Anda tidak merasa nyaman, kemungkinan kasus tersebut bukan kasus dilema etika, namun bujukan moral.

e. Uji Panutan/Idola - Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

6. Prinsip Pengambilan Keputusan

7. Investigasi Opsi Trilemma

8. Buat Keputusan

9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan.


Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang diambil dari suatu permasalahan, pasti akan berdampak pada semua elemen yang langsung berhubungan dengan permasalahan tersebut maupun elemen yang tidak langsung berhubungan.  Pengambilan keputusan yang tepat akan dapat diterima oleh semua elemen lingkungan. Pengambilan keputusan tersebut tentu saja akan memberi dampak positif pada lingkungan yang akan secara otomatis akan menciptakan lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman, dan akan mendukung semua aktivitas pencapaian program dan membawa kemajuan bagi komunitas tersebut. 


Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika

Pada kasus yang tergolong dilema etika, tentu saja tidak mudah untuk menyelesaikannya, apalagi menyangkut orang-orang di sekitar kita, baik pimpinan, rekan sejawat maupun murid-murid.  Paradigma, cara pandang dan semangat tiap orang yang berbeda yang merupakan hal-hal yang cukup sulit diatasi.  Ketika terjadi pengambilan keputusan, bisa saja keputusan tersebut tidak dapat memuaskan semua pihak.  Yang dapat dilakukan adalah menekan sesedikit mungkin hal-hal yang mungkin menimbulkan gesekan.  Dengan menempuh 9 langkah pengambilan keputusan diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan bijaksana bagi semua pihak. Hasil keputusan yang telah dihasilkan sedapat mungkin diarahkan untuk mengubah paradigma dan cara pandang orang-orang di sekitar kita. Keteladanan dan konsistensi dalam melaksanakan hasil keputusan menjadi sangat penting dalam melakukan perubahan paradigma seluruh elemen yang ada di komunitas.


Pengaruh pengambilan keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Muara pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pendidk haruslah berorientasi pada murid. Perencanaan dan pelaksanaan program sekolah dan program pembelajaran yang dilakukan haruslah berpihak dan berdampak pada murid. Keputusan yang diambil harus mempengaruhi pembelajaran yang memerdekakan murid. Guru harus menghantarkan murid menentukan sendiri masa depannya dengan berbekal karakter murid yang dibutuhkan untuk kehidupannya di masa depan.


Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya

Seorang pendidik adalah pemimpin pembelajaran. Apabila seorang pendidik mengambil keputusan yang kurang arif terhadap kasus dilema yang dihadapi peserta didiknya, akan berdampak kepada hal-hal yang kurang baik bagi murid tersebut. Sebaliknya, apabila pendidik bisa menjadi teladan, motivator dan fasilitator yang menginspirasi kehidupan murid-muridnya, dan arif dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada murid, akan mempengaruhi semangat, pola pikir dan karakter yang akan mempengaruhi kehidupan dan masa depannya. Bila hal ini dapat terwujud, berbahagialah pendidik tersebut karena dapat melaksanakan perannya sebagai penuntun murid untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.


Kesimpulan

Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pendidik sebagai pemimpin pembelajaran sangat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran yang akan berdampak pada murid. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik. Pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana dapat berdampak pada pembentukan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan nyaman sehingga dapat menyediakan ekosistem belajar murid agar mereka dapat menjadi manusia dan anggota masyarakat yang selamat dan bahagia. 


Sabtu, 13 November 2021

3.3.a.10. Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

SOSIALISASI DAN BAKTI LINGKUNGAN PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK

OLAH SAMPAHMU, SAYANGI BUMIMU

SMA NEGERI 1 KROYA

OLEH:

KURNIANINGSIH – CGP ANGKATAN 2 KABUPATEN CILACAP

 

A. LATAR BELAKANG KEGIATAN

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Dalam menuntun, kodrat anak harus disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam adalah lingkungan alam tempat peserta didik berada, baik itu kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya. Sedangkan kodrat zaman adalah perubahan dari waktu ke waktu. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. Sekolah dapat menjadi tempat mengajarkan kebiasaan yang baik pada murid dan membuatnya menjadi pembiasaan sehingga membudaya dan menguatkan profil pelajar Pancasila.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan, mempunyai peranan penting dalam mewujudkan insan-insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, trampil, sehat, dan bijaksana, selayaknya sekolah memiliki andil yang besar dalam mewujudkan masyarakat peduli lingkungan sehat. 

Guru sebagai pamong, fasilitator, motivator dan diseminator memiliki peran yang strategis. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Salah satunya dengan mengangkat peristiwa-peristiwa yang kontekstual ke dalam pembelajaran dan kegiatan-kegiatan di sekolah, antara lain mengenai ‘sampah’. Saat ini, permasalahan sampah merupakan hal yang sangat membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak dan warga sekitar. Salah satunya adalah sampah rumah tangga organik yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi secara tuntas. Jumlah sampah yang banyak dan menumpuk dapat menyebabkan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan di sekitarnya, menimbulkan bau tak sedap terhadap lingkungan, lingkungan yang kotor, pemandangan yang kumuh, menjadi sarang bagi vektor seperti tikus, lalat, kecoa, dan nyamuk yang dapat menyebabkan terjadinya wabah penyakit, juga menghasilkan gas metana yang dapat meningkatkan pemanasan global. Supaya sampah tidak menjadi beban bagi lingkungan maka semestinya tidak langsung dibuang ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu. 

Berdasarkan hal tersebut, pengolahan sampah organik merupakan hal yang sangat kontekstual apabila diangkat dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan lain di sekolah. Dengan menyelenggarakan pembelajaran menggunakan peristiwa yang kontekstual, dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan, keterampilan dan produk yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai individu, anggota keluarga dan masyarakat. 

Materi pengolahan sampah organik dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan proses belajar mengajar yang sesuai dengan kompetensi dasarnya. Dapat  pula diterapkan dalam kegiatan rutin sekolah, misalnya melalui kegiatan adiwiyata pada kelompok kerja kader pengolahan sampah organik. Pengolahan sampah organik dapat dijadikan sebagai budaya baik di sekolah maupun di rumah. Murid dapat menguasai pemahaman dan keterampilan mengolah sampah organik, bahkan dapat menjadi agen diseminator bagi masyarakat dan lingkungan dengan melakukan kegiatan bersama tim mereka. Hal ini merupakan penerapan masyarakat belajar yaitu melatih siswa untuk bekerjasama, sharing idea, saling berbagi pengalaman, pengetahuan, saling berkomunikasi dan berkreasi sehingga terjadi interaksi yang positif antar siswa dan pada akhirnya siswa terlibat secara aktif belajar bersama-sama, bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan lingkungannya . 


B. PELAKSANAAN BAKTI LINGKUNGAN DAN SOSIALISASI PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK

Kegiatan pengolahan sampah organik di SMA Negeri 1 Kroya saya laksanakan dengan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran mata pelajaran yang saya ampu yaitu mata pelajaran Biologi dan saya laksanakan pula sebagai salah satu kegiatan rutin di sekolah yaitu kegiatan adiwiyata melalui kelompok kerja kader pengolahan sampah organik.

Dalam mata pelajaran Biologi pada Kompetensi Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan, saya membuat projek pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat. Pada kegiatan projek ini, murid merancang sendiri produknya sesuai dengan minat, kemampuan dan ketersediaan sampah organik yang ada di rumah mereka. Kemudian mereka membuat produk sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Produk pengolahan sampah organik yang dirancang dan dihasilkan berupa kompos, pupuk organik cair dan ecoenzyme dengan menggunakan bahan dan metode yang bervariasi. Produk hasil pengolahan sampah organik rumah tangga tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Pada percobaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menggunakan produk hasil pengolahan sampah organik ini pun murid merancang sendiri percobaan mereka sesuai dengan minat, kemampuan dan kreativitasnya masing-masing. Murid melaksanakan percobaan hasil rancangan mereka dan membuat laporan dalam bentuk yang bervariasi sesuai dengan minat dan kemampuannya, terdapat bentuk poster, power point, pdf, dan video. Hal ini merupakan penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang saya pelajari pada kegiatan Program Guru Penggerak ini.

Pada kegiatan rutin, pengolahan sampah organik diintegrasikan pada kegiatan adiwiyata sekolah. SMA Negeri 1 Kroya merupakan sekolah adiwiyata nasional yang sedang menuju sekolah adiwiyata mandiri. Saya berperan sebagai pembina kader pengolahan sampah organik dan pembina kader green house. Berkaitan dengan pengolahan sampah organik, saya bersama pembina yang lain membuat program kegiatan untuk pokja kami. Saat ini, program kegiatan pokja pengolahan sampah organik adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos, pupuk organik cair (POC) dan ecoenzyme. Sampah daun kering yang berjatuhan, merupakan salah satu aset yang dimiliki oleh SMA Negeri 1 Kroya. Setiap hari, sampah daun kering ini disapu, dikumpulkan dan ditampung di tempat pengolahan untuk dibuat menjadi kompos. Selain itu, kader pengolahan sampah organik juga mengolah sampah organik menjadi ecoenzyme dan pupuk organik cair (POC) baik di sekolah maupun di rumahnya masing-masing. Produk hasil pengolahan sampah organik dari kader pengolahan sampah organik akan digunakan oleh kader adiwiyata lain misalnya kader green house, TOGA dan warung hidup sebagai pupuk dan pembuatan media tanam. 

Dari kegiatan rutin ini, kemudian saya membuat program pengembangan yang bertujuan agar murid dapat menerapkan pengetahuan, keterampilan dan produk yang mereka miliki ke lingkungan dan masyarakat sekitar dengan melakukan bakti lingkungan pemberian ecoenzyme ke saluran air dan sungai yang dekat dengan sekolah dan melakukan kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik ke warga sekitar sekolah.


Langkah-langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut :

1. Berkomunikasi dengan Kepala Sekolah berkaitan dengan rencana kegiatan kader pengolahan sampah organik.

2. Berkomunikasi dengan tim inti adiwiyata sekolah dan kader lain yang relevan yaitu kader jurnalistik.

3. Membimbing dan memotivasi murid agar mampu melakukan kegiatan sosialisasi ke masyarakat sekitar.

4. Membuat jadwal kegiatan dan mengurus administrasi kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik ke masyarakat sekitar, berupa surat permohonan ijin dari sekolah untuk melakukan sosialisasi pengolahan sampah organik kepada ketua PKK tujuan dan bakti lingkungan pemberian ecoenzyme ke saluran air dan sungai kepada ketua RW yang dituju.

5. Melaksanakan sosialisasi pengolahan sampah organik ke masyarakat sekitar.

6. Melakukan aksi nyata pemberian ecoenzyme ke lingkungan sekitar.

7. Melakukan refleksi kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik dan pemberian ecoenzyme ke lingkungan sekitar.


C. PERASAAAN (FEELINGS) DAN PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Kegiatan pengolahan sampah organik di SMA Negeri 1 Kroya, dapat terlaksana baik terintegrasi ke dalam mata pelajaran, kegiatan rutin dan budaya sekolah membuat saya merasa sangat senang, terharu dan semangat. Dengan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator, ternyata dapat memunculkan keterampilan-keterampilan yang ingin kita latihkan kepada murid. Dengan pembelajaran yang masih sangat terbatas pada kondisi saat ini, banyak murid yang tidak saling mengenal bahkan dengan teman dalam satu kelasnya. Dengan mengikuti kegiatan ini, murid yang berbeda kelas dan berbeda tingkatan, mampu menjalin komunikasi dan kerja sama, saling berkolaborasi secara kreatif dalam tim untuk menyukseskan kegiatan yang telah direncanakan. 

Berkat kemampuan kerja sama, kolaborasi, semangat dan kreativitas murid-murid, kegiatan pemberian ecoenzyme ke saluran air dan sungai yang dekat dengan sekolah dan kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik ke warga sekitar sekolah dapat terlaksana dengan lancar. Kegiatan yang dilakukan dalam tim ini, memberikan banyak manfaat bagi murid, antara lain meningkatkan kemampuan berkomunikasi, kerja sama, kemampuan berdiskusi, berpikir kritis, membuat perencanaan, menumbuhkan rasa sosial, melatih kemampuan berbicara di depan orang banyak, tanggung jawab dan cinta lingkungan.

Pemberian ecoenzyme ke lingkungan dapat membantu proses penguraian sampah organik yang ada di saluran air dan sungai sehinggga saluran air tidak dangkal dan bau, dan bila dilakukan secara rutin, perairan akan menjadi jernih. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa cinta murid kepada lingkungan yang bersih dan sehat dan turut adalah dalam menjaga bumi kita tercinta.

Kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik kepada masyarakat sekitar merupakan kegiatan untuk mengajak warga untuk ikut tergerak dan bergerak melakukan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat. Ini akan memberikan keuntungan ganda, di satu sisi akan sangat mengurangi sampah organik di lingkungan dan mengurangi dampak negatifnya. Di lain sisi, mendapatkan produk yang bermanfaat dari pengolahan sampah organik tersebut, seperti kompos, pupuk organik cair dan ecoenzyme. Selain itu kegiatan ini sangat bermanfaat bagi murid untuk membangun rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan berkomunikasi lisan, bersosialisasi, menghilangkan ketakutan berbicara di depan umum, melatih kepemimpinan, dll.

Kegiatan pengembangan ini membuat saya merasa sangat terharu dan bangga kepada murid-murid saya. Murid sejatinya bukanlah kertas kosong, mereka telah memiliki kemampuan-kemampuan awal. Tugas guru sebagai pembimbing adalah mengembangkan kemampuan awal tersebut dangan membuat program pengembangan sehingga murid dapat keluar dari zona nyamannya untuk mempelajari dan menerima hal-hal baru untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan melatih kepemimpinan mereka.

Dengan melaksanakan program pengembangan yang bertujuan agar murid dapat menerapkan pengetahuan, keterampilan dan produk yang mereka miliki ke lingkungan dan masyarakat sekitar, akan memberikan manfaat bagi murid tidak hanya sebagai individu, juga sebagai anggota masyarakat dan bagian dari lingkungan. Harapannya, hasil belajar murid menjadi lebih bermakna.


D. RENCANA TINDAK LANJUT (FUTURE)

Program pengembangan pengolahan sampah organik dengan melakukan sosialisasi pengolahan sampah organik kepada masyarakat sekitar dan pemberian ecoenzyme ke saluran air dan sungai yang dekat dengan sekolah telah berjalan dengan lancar dan in syaa Allah memberikan banyak manfaat.

Kegiatan positif ini akan terus kami laksanakan sebagai program rutin yang akan dilaksanakan secara berkala. Berdasarkan hasil refleksi, kegiatan berikutnya akan diupayakan berlangsung dengan lebih baik untuk persiapan dan pelaksanaannya.

Untuk kader pengolahan sampah organik adiwiyata SMA Negeri 1 Kroya saat ini telah menghasilkan 3 macam produk yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan di sekolah.  Apabila kebutuhan di sekolah telah tercukupi dan kami memiliki lebih banyak produk, rencana ke depan akan dikembangkan ke kegiatan kewirausahaan kader. 

Selain itu, dengan memacu kreativitas kader pengolahan sampah organik, diharapkan dapat memunculkan ide lain dalam pengolahan sampah organik. Sehingga ke depannya akan dihasilkan produk pengolahan sampah organik yang lebih bervariasi.


E. DOKUMENTASI KEGIATAN

1. Dokumentasi pengintegrasian pengolahan sampah organik ke mata pelajaran Biologi

 


 

2. Dokumentasi pengintegrasian pengolahan sampah organik ke kegiatan adiwiyata kader pengolahan sampah organik




 

3. Dokumentasi produk kader pengolahan sampah organik adiwiyata SMA Negeri 1 Kroya

     


4. Dokumentasi kegiatan sosialisasi pengolahan sampah organik kepada masyarakat sekitar sekolah

     


5. Dokumentasi kegiatan bakti lingkungan pemberian ecoenzyme ke saluran air dan sungai yang dekat sekolah

     



Rabu, 04 Agustus 2021

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1. Pembelajaran Berdiferensiasi

Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan pendidikan layaknya sebuah kebun. Petani akan menyebarkan benih, memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman. Bila benih yang ditanam adalah benih padi, petani tidak bisa memaksakan agar tumbuh menjadi tanaman lainnya. Petani hanya dapat menuntun tumbuh kembangnya padi.

Sekolah dapat diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam. Peserta didik diibaratkan sebagai benih tanaman, yang memiliki minat, bakat dan karakternya masing-masing, tidak bisa dipaksa untuk menjadi apa yang diinginkan oleh guru atau orang tua untuk tujuan tertentu.

“Semua orang itu pintar. Tapi kalau kamu menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya si ikan akan menganggap dirinya bodoh”. 

Kita mungkin sering membaca atau mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Sebuah tantangan besar bagi guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid yang memiliki karakteristik dan  keberagaman yang banyak sekali bentuknya. 

Ketika guru menghadapi begitu banyak murid yang memiliki latar belakang sangat beraneka ragam, misalnya perihal kemampuan dasarnya, minatnya, gaya belajarnya dll. Tentu merupakan suatu tantangan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang dapat mengakomodir semua perbedaan siswa tersebut. Pembelajaran diferensiasi adalah solusinya.

Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran diferensiasi yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dari segi konten, proses, dan juga produk yang dihasilkan siswa.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. 

3. Penilaian berkelanjutan.

4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. 

5. Manajemen kelas yang efektif.


Untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu:

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.  

2. Minat murid

Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya: 

Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;

Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;

Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;

Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

3. Profil belajar murid

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. 

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. 


Menurut Tomlinson (2001), strategi pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Diferensiasi konten

Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid, baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya.

2. Diferensiasi Proses

Dalam kegiatan ini guru perlu memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid. Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario pembelajaran yang akan dirancang. 

3. Diferensiasi Produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru. Produk adalah sesuatu yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting produk ini harus mencerminkan pemahaman murid yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.


Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. Komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah:

1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik.

2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai.  

3. Murid akan merasa aman. 

4. Ada harapan bagi pertumbuhan.

5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan. 

6. Ada keadilan dalam bentuk nyata. 

7. Guru dan berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama. 


Jumat, 02 Juli 2021

PGP-Angk2-Kabupaten Cilacap-Kurnianingsih_1.4-Rancangan Aksi




1.4.a.10.1 Aksi Nyata - Budaya Positif

Pembuatan Produk Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Oleh : Kurnianingsih, S.Pd
Calon Guru Penggerak Kabupaten Cilacap


Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan memberikan dampak terhadap jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan. Secara garis besar sampah dibagi menjadi sampah ogrnanik (terurai) dan sampah nonorganik (tidak dapat terurai). Di Indonesia, jumlah sampah melebihi kapasitas di tempat pembuangan akhir (TPA). Jumlah sampah yang mengalami peningkatan setiap tahunnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil sampah terbanyak di dunia setelah China. 

Pencemaran lingkungan umumnya disebabkan oleh berbagai jenis sampah, salah satunya yaitu sampah rumah tangga organik yang merupakan zat-zat atau benda-benda dari hasil kegiatan manusia seperti daun kering, sisa makanan (sayur-sayuran dan buah-buahan) yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Sampah rumah tangga organik sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi dengan baik dan benar. Keadaan sampah yang semakin hari menjadi banyak dan menumpuk mengakibatkan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan di sekitarnya. Perombakan sampah organik dalam suasana anaerob (miskin oksigen) akan menimbulkan bau tak sedap terhadap lingkungan. Sampah organik yang mengandung kandungan protein yang tinggi akan meningkatkan bau yang dihasilkannya. Dampak lain yang ditimbulkan karena adanya penimbunan sampah dalam jumlah besar adalah lingkungan yang kotor dan pemandangan yang kumuh. Timbunan sampah dapat menjadi sarang bagi vektor seperti tikus, lalat, dan nyamuk yang dapat menyebabkan terjadinya wabah penyakit. Pembusukan sampah organik juga menghasilkan gas metana yang memerangkap panas lebih banyak dari CO2 sehingga memperburuk pemanasan global.

Maka dari itu, diperlukan tindakan untuk penanganan dan pengolahan sampah organik di rumah tangga sehingga nantinya hal tersebut tidak akan mencemari lingkungan sekitar dan tidak menurunkan derajat kesehatan manusia.

Warga sekolah dapat memberikan keteladanan kepedulian kepada lingkungan dengan melakukan pengolahan sampah organik agar dapat mengurangi penumpukan sampah organik di lingkungan dan mengubahnya menjadi produk yang bermanfaat. Melalui pembelajaran Biologi, pendidik dapat mengintegrasikan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat ke dalam kegiatan pembelajaran pada KD yang sesuai.  Harapannya, kegiatan melalui pembelajaran Biologi ini akan terus dilakukan secara berkesinambungan dengan penuh kesadaran sebagai bentuk peduli kepada lingkungan sebagai bagian dari budaya positif warga sekolah baik di sekolah maupun di rumah.  Dengan ikut mengolah sampah organik rumah tangga, kita sudah ikut andil menyelamatkan bumi tercinta.

Deskripsi Aksi Nyata
Pada saat melaksanakan aksi nyata ini, kondisi masih pandemi dan terjadi lonjakan kasus Covid-19 yang membuat Kabupaten Cilacap berstatus zona merah.  Di samping itu, jadwal aksi nyata modul 1.4 bertepatan dengan libur sekolah semester 2. Penulis selaku Calon Guru Penggerak melaksanakan aksi nyata menyesuaikan kondisi saat ini.

Langkah-langkah aksi nyata yang dilakukan : 
1. Meminta izin kepada Kepala Sekolah 
untuk melaksanakan kegiatan aksi nyata modul 1.4 Budaya Positif.
2. Berkoordinasi dengan ketua Tim Adiwiyata Sekolah untuk melakukan sosialisasi pengolahan sampah kepada rekan sejawat.
SMA Negeri 1 Kroya sudah melakukan pengolahan sampah dengan cara pembuatan kompos.  Bahan bakunya adalah reruntuhan dedaunan yang setiap hari dikumpulkan dan diolah menjadi kompos.  Hasilnya digunakan untuk pemeliharan media tanah dan media tanam di sekolah.
Untuk pembuatan kompos, banyak orang yang sudah familier dan sudah banyak yang membuatnya. Pada aksi nyata kali ini, Calon Guru Penggerak memberikan sosialisasi pengolahan sampah organik menjadi ecoenzyme.  Mungkin banyak teman-teman yang belum mengenal eco-enzyme, cara membuat dan manfaatnya.
Eco-enzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi sisa organik, gula, dan air. Cairan Eco-enzyme ini berwarna coklat gelap dan memiliki aroma yang asam/segar yang kuat. Cara membuat Eco-enzyme ternyata sangat mudah! Cukup siapkan wadah plastik bekas (bisa berupa botol/toples bekas atau jerrycan). Bahannya berupa air, gula, dan kulit buah/sisa sayur yang masih segar (belum dimasak dan tidak terkena minyak) dan lunak dengan rasio 10 air : 1 gula : 3 bahan organik. Gula sebaiknya tidak menggunakan gula pasir tetapi dapat menggunakan gula mera/molase/gula aren/gula semut. Wadah jangan diisi penuh, tetapi sisakan ruang kosong untuk menampung gas hasil proses fermentasi. Simpan di tempat dingin, kering dan berventilasi. Hindari sinar matahari langsung dan jangan disimpan di dalam kulkas. Biarkan proses fermentasi berlangsung selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, silahkan panen eco-enzymenya.
Eco-enzyme antara lain dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih serbaguna, pupuk tanaman, pengusir hama, melestarikan lingkungan, pembersih udara, detoksifikasi, dll.
Dengan sosialisasi ini, diharapkan rekan sejawat mengolah sampah organik yang dihasilkan di dapur sekolah dan di rumah mereka dengan cara yang berbeda sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang mudah dan memberikan banyak manfaat. Dukungan kegiatan dari warga sekolah dalam mengolah sampah organik merupakan bentuk keteladanan yang luar biasa sebagai bentuk peduli lingkungan dan upaya penyelamatan bumi.

3. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis projek (PjBL) dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga ke dalam KD yang sesuai dengan melibatkan peran orang tua murid dan atau lingkungan sekitar, lengkap dengan format penilaian projeknya sesuai link https://bit.ly/RPPPertumbuhanPjBL .
Dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga ke dalam pembelajaran, akan membimbing murid tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi melatih mereka mengadakan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, dimulai dari keluarga mereka. Hal ini akan melatih mereka untuk fokus, teliti dan peduli. Murid diberi kebebasan merencanakan projek mereka dalam melakukan pengolahan sampah organik, mendukung merdeka belajar bagi murid.  
Pada kegiatan projek, siswa akan dilatih melakukan perencanaan sesuai dengan minat dan kreatifitas mereka. Dari kegiatan ini diharapkan mereka berlatih menjadi perekayasa (engeneer) yang akan memunculkan sikap inovatif. Pembuatan jadwal kegiatan projek akan melatih siswa menepati kesepakatan yang telah mereka buat.  Pelaksanaan projek yang dilaksanakan murid, sesuai dengan perencanaan mereka akan melatih keterampilan merangkai, menakar, mengkombinasikan, mengamati, memantau, mendata, menganalisis, menyimpulkan dan mendokumentasikan. 
Pembuatan laporan diserahkan kepada murid untuk berkreasi sesuai minat dan kemampuan mereka. Murid biasanya sangat semangat bermedia sosial, hal ini akan mendukung mereka mengunggah hal yang positif dan bermanfaat.
Pada kegiatan uji hasil, murid akan belajar mengelola presentasi secara berkelompok. Mereka akan belajar berbagi tugas dan saling mendukung satu sama lain. Ketika evaluasi pengalaman, mereka akan melakukan refleksi terhadap hasil kerja mereka. Mereka belajar menerima masukan dan menerima kekurangan diri.

4. Membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik untuk memandu murid melakukan aktivitas pembuatan produk pengolahan sampah organik rumah tangga.
LKPD sangat diperlukan untuk memandu murid melaksanakan kegiatan projek.  Dalam LKPD dirancang pelibatan orang tua murid untuk mendukung belajar putra putrinya sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua juga memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman baik dan memberikan motivasi. LKPD dapat dilihat pada link https://bit.ly/LKPDFaktEkst .

5. Berkolaborasi dengan mata pelajaran lain yang memungkinkan untuk melaksanakan projek bersama.
Kegiatan projek memungkinkan untuk berkolaborasi dengan mata pelajaran lain, sehingga dengan mengerjakan satu projek sudah meliputi pembelajaran beberapa mata pelajaran.  Hal ini akan mengurangi beban tugas siswa yang terlalu banyak.  Di sisi lain, akan terbangun gotong royong dan komunikasi yang baik antar mata pelajaran.  

6. Melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis projek (PjBL) dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga.
Kegiatan ini akan dilaksanakan ketika memasuki tahun ajaran baru pada murid kelas XII di semester 1 KD Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.
Semoga hasil sesuai harapan yang telah ditencanakan, untuk murid yang lebih baik dalam rangka mewujudkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila yang peduli lingkungan.

Hasil Aksi Nyata
Hasil aksi nyata yang dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tersosialisasikannya salah satu cara pengolahan sampah organik dari dapur sekolah/ rumah guru karyawan menjadi eco-enzyme yang mudah dan banyak manfaat. 
2. Memulai pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme yang diharapkan mendukung budaya positif di sekolah dan di rumah berupa keteladanan dan peduli lingkungan.
3. Tersusunnya rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis projek beserta perangkatnya yang berpihak pada murid dengan berkolaborasi dengan mata pelajaran lain.
4. Tersusunnya rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis projek yang mendukung merdeka belajar bagi murid.
5. Terbangunnya kolaborasi antar mata pelajaran yang merupakan bentuk gotong royong.


Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan, keberhasilan, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata)

Kegagalan
Kegiatan aksi nyata ini baru sampai linimasa yang ke-5. Sampai dengan tahap ini, alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai harapan.  Semoga pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran bersama murid sesuai dengan perencanaan dan target yang diharapkan.

Keberhasilan
1. Teman sejawat menunjukkan respon yang positif dan sikap antusias dalam mengikuti sosialisasi pembuatan produk pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.  Hal ini merupakan modal keteladanan yang diberikan oleh guru dan karyawan dalam membangun budaya positif di sekolah. 
2. Terbangunnya kolaborasi dengan guru dari mata pelajaran lain untuk melaksanakan pembelajaran berbasis projek bersama yang menunjukkan sikap gotong royong.
3. Tersusunnya perangkat pembelajaran berbasis projek yang berpihak pada murid dan mendukung perwujudan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.
 
Hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata
1. Kondisi terjadinya lonjakan angka covid-19 mengharuskan guru yang wfo hanya sebanyak 25% saja sehingga peserta sosialisasi jumlahnya hanya sedikit. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan direkamnya kegiatan sosialisasi untuk pembelajaran bersama dan mendukung kegiatan program sekolah adiwiyata.
2. Jadwal kegiatan aksi nyata 1.4. bertepatan dengan libur sekolah semester genap.
3. Dengan kondisi pandemi sedang tinggi dan libur sekolah, maka kegiatan aksi nyata linimasa ke-6 dan seterusnya tidak dapat langsung dilaksanakan, tetapi menunggu tahun ajaran baru.


Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang
1. Berkoordinasi dengan tim publikasi sekolah adiwiyata untuk mempublish video sosialisasi pembuatan eco-enzyme agar lebih banyak orang yang mengetahui tentang eco-enzyme dan peduli lingkungan.
2. Perencanaan yang lebih matang dengan lebih banyak melibatkan mata pelajaran dalam projek bersama.
3. Melaksanakan pembelajaran sesuai perencanaan agar tujuan memerdekakan murid dan mewujudkan profil pelajar Pancasila tercapai.
4. Melakukan refleksi secara berkala.

Dokumentasi
1. Berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk mendapat dukungan dan meminta izin melakukan aksi nyata.
 




2. Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lain membahas perencanaan projek bersama.
 
 





3. Melakukan sosialisasi pembuatan produk pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.