Kamis, 09 Desember 2021

3.1.A.8. KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

3.1.A.8. KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh : Kurnianingsih

CGP Angkatan 2 Kabupaten Cilacap


Pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Patrap Triloka terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. ‘Menuntun’ tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Guru sebagai seorang pamong dapat menggunakan sistem among dalam pelaksanaan pembelajaran untuk membangun karakter murid. 

Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Trilokanya, memberikan pedoman bagi guru yaitu : 

a. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)

Seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan sauri tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memberikan keteladanan kepada orang-orang di sekitarnya karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya. 

b. Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat)

Guru sebagai orang yang berada di antara murid-murid atau di tengah-tengah masyarakat hendaknya selalu dapat menciptakan prakarsa, ide, dan menginspirasi orang lain. Guru harus mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap para muridnya dalam mengambil keputusan termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika yang dihadapi para murid. Dengan demikian potensi murid menjadi lebih berkembang sehingga mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat bagi dirinya.

c. Tut wuri handayani (dari belakang mendukung).

Dari belakang, guru hendaknya mendukung atau mendorong orang yang ada di sekitarnya untuk lebih maju dan percaya diri. Guru harus dapat memberi dukungan, dorongan dan arahan kepada murid untuk dapat mengembangkan minat dan bakat serta kemampuannya semaksimal mungkin. Guru harus mampu mendorong kinerja murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.


Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan

Guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu mempertimbangkan nilai-nilai saat mengambil keputusan agar keputusan yang diambil tepat dan bijaksana. Dalam pengambilan keputusan oleh seorang guru, tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri guru tersebut. Ketika menghadapi sebuah dilema etika akan ada nilai-nilai kebajikan yang mendasari yang bertentangan dan harus menjadi pilihan, sehingga nilai dan prinsip seseorang sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Seorang pemimpin pembelajaran tentunya diharapkan mampu mengambil keputusan yang dapat membawa dampak positif pada terciptanya lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman bagi murid sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang berdampak pada murid agar murid dapat merasakan merdeka belajar.


Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil.

Ketika pendampingan oleh pendamping praktik, saya pernah bertanya atau meminta contoh atau bagaimana yang sebaiknya saya lakukan, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban seperti yang saya harapkan. Setelah mendapatkan materi tentang Coaching, saya baru menyadari bahwa proses yang dilakukan oleh Pendamping Praktik sejatinya sedang menerapkan teknik coaching terhadap CGP. Tidak heran bila pendamping praktik (PP) mengajukan pertanyaan yang hampir sama berulang-ulang kepada saya. Dengan tidak menjawab secara langsung, menyebabkan saya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Hal ini dilakukan tentu saja dalam rangka memunculkan potensi diri yang saya miliki. Kegiatan coaching ini akan saya terapkan pada murid saya, agar mereka dapat bertahan dan mangatasi masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan. Murid juga harus memiliki keterampilan agar mampu membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dalam kehidupan sehari-hari, pasti banyak ditemui berbagai masalah. Kita seyogyanya dapat membedakan maslah-maslah tersebut apakah termasuk bujukan moral ataukah dilema etika.  Suatu pengambilan keputusan tentu sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik. Hal ini akan menuntun kita ketika akan mengambil keputusan terhadap suatu masalah.  Apabila masuk kategori bujukan moral, kita harus memilih pilihan yang benar, bukan sebaliknya.  Apabila permasalahan termasuk pada kategori dilema etika, dalam pengambilan keputusannya, kita harus menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan, yaitu:

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini.

4. Pengujian Benar atau Salah

a. Uji legal - Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut?

b. Uji regulasi - Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut?

c. Uji intuisi - Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?

d. Uji Halaman Depan Koran - Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran?  Apakah Anda merasa nyaman? Bila Anda tidak merasa nyaman, kemungkinan kasus tersebut bukan kasus dilema etika, namun bujukan moral.

e. Uji Panutan/Idola - Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

6. Prinsip Pengambilan Keputusan

7. Investigasi Opsi Trilemma

8. Buat Keputusan

9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan.


Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang diambil dari suatu permasalahan, pasti akan berdampak pada semua elemen yang langsung berhubungan dengan permasalahan tersebut maupun elemen yang tidak langsung berhubungan.  Pengambilan keputusan yang tepat akan dapat diterima oleh semua elemen lingkungan. Pengambilan keputusan tersebut tentu saja akan memberi dampak positif pada lingkungan yang akan secara otomatis akan menciptakan lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman, dan akan mendukung semua aktivitas pencapaian program dan membawa kemajuan bagi komunitas tersebut. 


Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika

Pada kasus yang tergolong dilema etika, tentu saja tidak mudah untuk menyelesaikannya, apalagi menyangkut orang-orang di sekitar kita, baik pimpinan, rekan sejawat maupun murid-murid.  Paradigma, cara pandang dan semangat tiap orang yang berbeda yang merupakan hal-hal yang cukup sulit diatasi.  Ketika terjadi pengambilan keputusan, bisa saja keputusan tersebut tidak dapat memuaskan semua pihak.  Yang dapat dilakukan adalah menekan sesedikit mungkin hal-hal yang mungkin menimbulkan gesekan.  Dengan menempuh 9 langkah pengambilan keputusan diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan bijaksana bagi semua pihak. Hasil keputusan yang telah dihasilkan sedapat mungkin diarahkan untuk mengubah paradigma dan cara pandang orang-orang di sekitar kita. Keteladanan dan konsistensi dalam melaksanakan hasil keputusan menjadi sangat penting dalam melakukan perubahan paradigma seluruh elemen yang ada di komunitas.


Pengaruh pengambilan keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Muara pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pendidk haruslah berorientasi pada murid. Perencanaan dan pelaksanaan program sekolah dan program pembelajaran yang dilakukan haruslah berpihak dan berdampak pada murid. Keputusan yang diambil harus mempengaruhi pembelajaran yang memerdekakan murid. Guru harus menghantarkan murid menentukan sendiri masa depannya dengan berbekal karakter murid yang dibutuhkan untuk kehidupannya di masa depan.


Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya

Seorang pendidik adalah pemimpin pembelajaran. Apabila seorang pendidik mengambil keputusan yang kurang arif terhadap kasus dilema yang dihadapi peserta didiknya, akan berdampak kepada hal-hal yang kurang baik bagi murid tersebut. Sebaliknya, apabila pendidik bisa menjadi teladan, motivator dan fasilitator yang menginspirasi kehidupan murid-muridnya, dan arif dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada murid, akan mempengaruhi semangat, pola pikir dan karakter yang akan mempengaruhi kehidupan dan masa depannya. Bila hal ini dapat terwujud, berbahagialah pendidik tersebut karena dapat melaksanakan perannya sebagai penuntun murid untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.


Kesimpulan

Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pendidik sebagai pemimpin pembelajaran sangat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran yang akan berdampak pada murid. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik. Pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana dapat berdampak pada pembentukan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan nyaman sehingga dapat menyediakan ekosistem belajar murid agar mereka dapat menjadi manusia dan anggota masyarakat yang selamat dan bahagia.