Jumat, 02 Juli 2021

PGP-Angk2-Kabupaten Cilacap-Kurnianingsih_1.4-Rancangan Aksi




1.4.a.10.1 Aksi Nyata - Budaya Positif

Pembuatan Produk Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Oleh : Kurnianingsih, S.Pd
Calon Guru Penggerak Kabupaten Cilacap


Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan memberikan dampak terhadap jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan. Secara garis besar sampah dibagi menjadi sampah ogrnanik (terurai) dan sampah nonorganik (tidak dapat terurai). Di Indonesia, jumlah sampah melebihi kapasitas di tempat pembuangan akhir (TPA). Jumlah sampah yang mengalami peningkatan setiap tahunnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil sampah terbanyak di dunia setelah China. 

Pencemaran lingkungan umumnya disebabkan oleh berbagai jenis sampah, salah satunya yaitu sampah rumah tangga organik yang merupakan zat-zat atau benda-benda dari hasil kegiatan manusia seperti daun kering, sisa makanan (sayur-sayuran dan buah-buahan) yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Sampah rumah tangga organik sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi dengan baik dan benar. Keadaan sampah yang semakin hari menjadi banyak dan menumpuk mengakibatkan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan di sekitarnya. Perombakan sampah organik dalam suasana anaerob (miskin oksigen) akan menimbulkan bau tak sedap terhadap lingkungan. Sampah organik yang mengandung kandungan protein yang tinggi akan meningkatkan bau yang dihasilkannya. Dampak lain yang ditimbulkan karena adanya penimbunan sampah dalam jumlah besar adalah lingkungan yang kotor dan pemandangan yang kumuh. Timbunan sampah dapat menjadi sarang bagi vektor seperti tikus, lalat, dan nyamuk yang dapat menyebabkan terjadinya wabah penyakit. Pembusukan sampah organik juga menghasilkan gas metana yang memerangkap panas lebih banyak dari CO2 sehingga memperburuk pemanasan global.

Maka dari itu, diperlukan tindakan untuk penanganan dan pengolahan sampah organik di rumah tangga sehingga nantinya hal tersebut tidak akan mencemari lingkungan sekitar dan tidak menurunkan derajat kesehatan manusia.

Warga sekolah dapat memberikan keteladanan kepedulian kepada lingkungan dengan melakukan pengolahan sampah organik agar dapat mengurangi penumpukan sampah organik di lingkungan dan mengubahnya menjadi produk yang bermanfaat. Melalui pembelajaran Biologi, pendidik dapat mengintegrasikan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat ke dalam kegiatan pembelajaran pada KD yang sesuai.  Harapannya, kegiatan melalui pembelajaran Biologi ini akan terus dilakukan secara berkesinambungan dengan penuh kesadaran sebagai bentuk peduli kepada lingkungan sebagai bagian dari budaya positif warga sekolah baik di sekolah maupun di rumah.  Dengan ikut mengolah sampah organik rumah tangga, kita sudah ikut andil menyelamatkan bumi tercinta.

Deskripsi Aksi Nyata
Pada saat melaksanakan aksi nyata ini, kondisi masih pandemi dan terjadi lonjakan kasus Covid-19 yang membuat Kabupaten Cilacap berstatus zona merah.  Di samping itu, jadwal aksi nyata modul 1.4 bertepatan dengan libur sekolah semester 2. Penulis selaku Calon Guru Penggerak melaksanakan aksi nyata menyesuaikan kondisi saat ini.

Langkah-langkah aksi nyata yang dilakukan : 
1. Meminta izin kepada Kepala Sekolah 
untuk melaksanakan kegiatan aksi nyata modul 1.4 Budaya Positif.
2. Berkoordinasi dengan ketua Tim Adiwiyata Sekolah untuk melakukan sosialisasi pengolahan sampah kepada rekan sejawat.
SMA Negeri 1 Kroya sudah melakukan pengolahan sampah dengan cara pembuatan kompos.  Bahan bakunya adalah reruntuhan dedaunan yang setiap hari dikumpulkan dan diolah menjadi kompos.  Hasilnya digunakan untuk pemeliharan media tanah dan media tanam di sekolah.
Untuk pembuatan kompos, banyak orang yang sudah familier dan sudah banyak yang membuatnya. Pada aksi nyata kali ini, Calon Guru Penggerak memberikan sosialisasi pengolahan sampah organik menjadi ecoenzyme.  Mungkin banyak teman-teman yang belum mengenal eco-enzyme, cara membuat dan manfaatnya.
Eco-enzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi sisa organik, gula, dan air. Cairan Eco-enzyme ini berwarna coklat gelap dan memiliki aroma yang asam/segar yang kuat. Cara membuat Eco-enzyme ternyata sangat mudah! Cukup siapkan wadah plastik bekas (bisa berupa botol/toples bekas atau jerrycan). Bahannya berupa air, gula, dan kulit buah/sisa sayur yang masih segar (belum dimasak dan tidak terkena minyak) dan lunak dengan rasio 10 air : 1 gula : 3 bahan organik. Gula sebaiknya tidak menggunakan gula pasir tetapi dapat menggunakan gula mera/molase/gula aren/gula semut. Wadah jangan diisi penuh, tetapi sisakan ruang kosong untuk menampung gas hasil proses fermentasi. Simpan di tempat dingin, kering dan berventilasi. Hindari sinar matahari langsung dan jangan disimpan di dalam kulkas. Biarkan proses fermentasi berlangsung selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, silahkan panen eco-enzymenya.
Eco-enzyme antara lain dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih serbaguna, pupuk tanaman, pengusir hama, melestarikan lingkungan, pembersih udara, detoksifikasi, dll.
Dengan sosialisasi ini, diharapkan rekan sejawat mengolah sampah organik yang dihasilkan di dapur sekolah dan di rumah mereka dengan cara yang berbeda sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang mudah dan memberikan banyak manfaat. Dukungan kegiatan dari warga sekolah dalam mengolah sampah organik merupakan bentuk keteladanan yang luar biasa sebagai bentuk peduli lingkungan dan upaya penyelamatan bumi.

3. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis projek (PjBL) dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga ke dalam KD yang sesuai dengan melibatkan peran orang tua murid dan atau lingkungan sekitar, lengkap dengan format penilaian projeknya sesuai link https://bit.ly/RPPPertumbuhanPjBL .
Dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga ke dalam pembelajaran, akan membimbing murid tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi melatih mereka mengadakan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, dimulai dari keluarga mereka. Hal ini akan melatih mereka untuk fokus, teliti dan peduli. Murid diberi kebebasan merencanakan projek mereka dalam melakukan pengolahan sampah organik, mendukung merdeka belajar bagi murid.  
Pada kegiatan projek, siswa akan dilatih melakukan perencanaan sesuai dengan minat dan kreatifitas mereka. Dari kegiatan ini diharapkan mereka berlatih menjadi perekayasa (engeneer) yang akan memunculkan sikap inovatif. Pembuatan jadwal kegiatan projek akan melatih siswa menepati kesepakatan yang telah mereka buat.  Pelaksanaan projek yang dilaksanakan murid, sesuai dengan perencanaan mereka akan melatih keterampilan merangkai, menakar, mengkombinasikan, mengamati, memantau, mendata, menganalisis, menyimpulkan dan mendokumentasikan. 
Pembuatan laporan diserahkan kepada murid untuk berkreasi sesuai minat dan kemampuan mereka. Murid biasanya sangat semangat bermedia sosial, hal ini akan mendukung mereka mengunggah hal yang positif dan bermanfaat.
Pada kegiatan uji hasil, murid akan belajar mengelola presentasi secara berkelompok. Mereka akan belajar berbagi tugas dan saling mendukung satu sama lain. Ketika evaluasi pengalaman, mereka akan melakukan refleksi terhadap hasil kerja mereka. Mereka belajar menerima masukan dan menerima kekurangan diri.

4. Membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik untuk memandu murid melakukan aktivitas pembuatan produk pengolahan sampah organik rumah tangga.
LKPD sangat diperlukan untuk memandu murid melaksanakan kegiatan projek.  Dalam LKPD dirancang pelibatan orang tua murid untuk mendukung belajar putra putrinya sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua juga memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman baik dan memberikan motivasi. LKPD dapat dilihat pada link https://bit.ly/LKPDFaktEkst .

5. Berkolaborasi dengan mata pelajaran lain yang memungkinkan untuk melaksanakan projek bersama.
Kegiatan projek memungkinkan untuk berkolaborasi dengan mata pelajaran lain, sehingga dengan mengerjakan satu projek sudah meliputi pembelajaran beberapa mata pelajaran.  Hal ini akan mengurangi beban tugas siswa yang terlalu banyak.  Di sisi lain, akan terbangun gotong royong dan komunikasi yang baik antar mata pelajaran.  

6. Melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis projek (PjBL) dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan sampah organik rumah tangga.
Kegiatan ini akan dilaksanakan ketika memasuki tahun ajaran baru pada murid kelas XII di semester 1 KD Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.
Semoga hasil sesuai harapan yang telah ditencanakan, untuk murid yang lebih baik dalam rangka mewujudkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila yang peduli lingkungan.

Hasil Aksi Nyata
Hasil aksi nyata yang dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tersosialisasikannya salah satu cara pengolahan sampah organik dari dapur sekolah/ rumah guru karyawan menjadi eco-enzyme yang mudah dan banyak manfaat. 
2. Memulai pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme yang diharapkan mendukung budaya positif di sekolah dan di rumah berupa keteladanan dan peduli lingkungan.
3. Tersusunnya rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis projek beserta perangkatnya yang berpihak pada murid dengan berkolaborasi dengan mata pelajaran lain.
4. Tersusunnya rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis projek yang mendukung merdeka belajar bagi murid.
5. Terbangunnya kolaborasi antar mata pelajaran yang merupakan bentuk gotong royong.


Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan, keberhasilan, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata)

Kegagalan
Kegiatan aksi nyata ini baru sampai linimasa yang ke-5. Sampai dengan tahap ini, alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai harapan.  Semoga pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran bersama murid sesuai dengan perencanaan dan target yang diharapkan.

Keberhasilan
1. Teman sejawat menunjukkan respon yang positif dan sikap antusias dalam mengikuti sosialisasi pembuatan produk pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.  Hal ini merupakan modal keteladanan yang diberikan oleh guru dan karyawan dalam membangun budaya positif di sekolah. 
2. Terbangunnya kolaborasi dengan guru dari mata pelajaran lain untuk melaksanakan pembelajaran berbasis projek bersama yang menunjukkan sikap gotong royong.
3. Tersusunnya perangkat pembelajaran berbasis projek yang berpihak pada murid dan mendukung perwujudan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.
 
Hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata
1. Kondisi terjadinya lonjakan angka covid-19 mengharuskan guru yang wfo hanya sebanyak 25% saja sehingga peserta sosialisasi jumlahnya hanya sedikit. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan direkamnya kegiatan sosialisasi untuk pembelajaran bersama dan mendukung kegiatan program sekolah adiwiyata.
2. Jadwal kegiatan aksi nyata 1.4. bertepatan dengan libur sekolah semester genap.
3. Dengan kondisi pandemi sedang tinggi dan libur sekolah, maka kegiatan aksi nyata linimasa ke-6 dan seterusnya tidak dapat langsung dilaksanakan, tetapi menunggu tahun ajaran baru.


Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang
1. Berkoordinasi dengan tim publikasi sekolah adiwiyata untuk mempublish video sosialisasi pembuatan eco-enzyme agar lebih banyak orang yang mengetahui tentang eco-enzyme dan peduli lingkungan.
2. Perencanaan yang lebih matang dengan lebih banyak melibatkan mata pelajaran dalam projek bersama.
3. Melaksanakan pembelajaran sesuai perencanaan agar tujuan memerdekakan murid dan mewujudkan profil pelajar Pancasila tercapai.
4. Melakukan refleksi secara berkala.

Dokumentasi
1. Berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk mendapat dukungan dan meminta izin melakukan aksi nyata.
 




2. Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lain membahas perencanaan projek bersama.
 
 





3. Melakukan sosialisasi pembuatan produk pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.